24019 KALI DIBACA

Dianiaya Anak Kepling dan Mantan Narapidana, Ibu Korban Minta Kepastian Hukum

Dianiaya Anak Kepling dan Mantan Narapidana, Ibu Korban Minta Kepastian Hukum

METRO MEDAN – Akibat dianiaya anak Kepala Lingkungan (Kepling) Blok 19, HELVETIA, Denis bersama temannya mantan Narapidana, Suprayogi, Ibu korban, Marco Randa Sinuhaji minta kepastian hukum di Polsek Helvetia jajaran Polrestabes Medan.

Korban pemuda berusia 22 tahun itu melalui Ibu kandungnya, IM menceritakan, kejadian yang menimpa anak kandungnya yang disapa Marco tersebut, berawal saat pelaku Suprayogi menghubungi ibu korban melalui handphone cellular pada tanggal 27 September 2020, malam.

“Ada ini mengenai si Marco mau kuterangkan,” kata pelaku Suprayogi kepada ibu korban saat itu.

Setelah bertemu dengan ibu korban di halaman depan Kostan, Jalan Matahari Raya No.54, Helvetia, pelaku Suprayogi yang akrab disapa Yogi mengatakan, bahwa dirinya katanya dicari anaknya, Marco dan atas hal itu, pelaku mengaku merasa malu.

Dikarenakan ibu korban menolong pelaku Yogi yang sebelumnya ditahan di Rutan Humbahas, Dolok Sanggul Kasus Narkoba dan baru bebas bulan Januari 2020, pria bertatto itupun menghargai jasa ibu korban.

Setengah jam kemudian seketika ibu korban dan pelaku bertemu, lalu korban Marco bersama kekasihnya Juliana Purba datang dan keduanya langsung memasuki kostan.

Melihat pelaku Yogi bersama ibunya, korban Marco pun menghampiri pelaku dan mengatakan,”Keluar kau dari situ, ngapain kau disitu,” ucap Marco kepada Yogi sembari dirinya beranjak keluar ke arah jalan raya yang berjarak lima meter.

Merasa enggak senang, sambil menyorong sepeda motornya mengarah ke luar kostan, pelaku Yogi kemudian mengejar korban Marco dan langsung mencekik leher korban tanpa adanya perlawanan.

Ibu korban yang melihat perlakuan pelaku Yogi langsung menghampiri keduanya untuk merelai. Selanjutnya, pelaku Yogi pun pergi.

Selang berapa menit kemudian, pelaku Yogi bersama temannya Denis yang diketahui anak Ibu Noni Kepling Blok 19, Helvetia yang saat itu Denis membawa pentungan kayu padu kembali mendatangi korban Marco di rumah Kostan dengan berboncengan naik sepeda motor milik Denis.

Setelah bertemu dengan korban Marco yang saat itu bersama sang pacar, Juliana Purba lalu pelaku Yogi menanya-nanyaki korban dan mengajak korban ke pos FKPPI Sakura.

Mendengar itu, korban Marco mengatakan,”Kalau enggak senang Abang, ke Polsek aja kita,” ucap korban kepada Yogi.

Namun kedua pelaku (Yogi dan Denis-Red) bersikeras memaksa membawa korban Marco ke kantor FKPPI Sakura akan tetapi korban menolak ajakan tersebut hingga membuat kedua pelaku naik pitam dan langsung menyeret dan memukuli korban dengan sebuah kayu padu disaksikan ibu korban, pacar dan warga sekitar pada pukul 00: 45 Wib.

Ibu korban yang melihat langsung kejadian pengeroyokan yang dilakukan kedua pelaku terhadap anaknya Marco kemudian merelai peristiwa tersebut dan sembari berteriak,”Oh mau kau matikan anak ku ia, tunggu kau ke Polsek aku ia,” teriak ibu korban sembari pergi menuju ke Polsek Helvetia malam kejadian dan meninggalkan anak kandungnya yang terkapar di badan jalan dengan kondisi berlumuran darah.

Anehnya, merasa tak bersalah, kedua pelaku juga menuju Polsek Helvetia hendak membuat pengaduan hal itu disampaikan kepada oknum petugas jaga saat itu.

Petugas pun mengatakan kepada kedua pelaku,”Kok kalian pula yang melapor, sementara anak ibu itu yang kalian pukuli, kejar ibu itu sambil minta maaf. kalau ada misalnya ada yang luka-luka kalian obati lah,” saran petugas kepada kedua pelaku yang ditirukan ibu korban ucapan petugas saat itu kepadanya.

Perkataan petugas pun diabaikan kedua pelaku dan mereka kemudian beranjak pergi meninggalkan Mako Polsek Helvetia sedangkan ibu korban masih di kantor polisi.

Selanjutnya Ibu korban menjelaskan, kejadian penganiayaan yang dilakukan kedua pelaku terhadap anak laki-lakinya Marco dan menjelaskan kondisi anaknya atas pengeroyokan para pelaku, namun petugas menyarankan, ibu korban agar membawa anak nya Marco ke Polsek dengan berat hati, ibu korban pun pulang untuk niat membawa anaknya yang berlumuran darah dan tak berdaya itu.

Warga sekitar yang tak tega melihat korban Marco kondisi berlumuran darah dan tak berdaya sempat membawa korban ke klinik yang tak jauh dari kediamannya.

Kemudian keesokan harinya pada tanggal 30 November 2020, korban Marco dibawa ibu korban ke Tempat khusuk, Jalan Padang Bulan setelah itu ibu korban membawa korban Marco ke Polsek Helvetia didampingi pacarnya yang juga saksi pertama, Juliana Purba.

Di kantor polisi, korban Marco dan saksi Juliana Purba kemudian dimintai keterangan oleh petugas SPKT dan laporannya tertuang di dalam Surat Laporan Nomor: STTLP/458/XI/2020/SU/POLRESTABES MEDAN/SEK.MEDAN HELVETIA pada tanggal 28 September 2020 pukul 13:58 Wib.

Selanjutnya, petugas memberikan surat pengantar untuk di visum korban Marco ke RS Brimob, Jln. KH.Wahid Hasyim, Medan tanpa didampingi petugas kepolisian.

Saat dilakukan visum, pihak medis menyarankan agar korban di Opname dikarenakan bagian lubang hidung mengeluarkan darah, bibir atas robek, mata sebelah kiri tidak bisa terbuka, kepala bagian kiri bengkak serta pinggang dan bagian sekujur tubuh juga mengalami bengkak dan memar.

Namun ibu korban menolak dengan alasan karena kejauhan dari rumah dan ibu korban minta ke RS Royal Prima, Medan yang tak jauh dari rumah.

Hal itu kemudian disetujui pihak medis Rumah Sakit Brimob dan petugas medis memberi surat pengantar visum kepada ibu korban untuk diserahkan kepada pihak kepolisian helvetia.

Setelah itu, ibu korban membawa anaknya Marco ke RS Royal Prima untuk dilakukan Opname dan selanjutnya ibu korban pergi menyerahkan surat pengantar visum ke Polsek Helvetia dan diterima petugas jaga.

Setelah 4 hari opname dan dilakukan Scan, Rontgen kemudian ibu korban menghubungi melalui handphone cellular juru periksa Maulana niat ingin membawa saksi kedua.

Juper Maulana mengatakan,”Kalau udah lumayan bawa kemari korbannya Marco. Saksinya nanti tunggu perintah Kapolsek,” ucap Juper kepada ibu korban.

“Udah lah ke Propam aja aku. Kok ditolak pula aku mau membawa saksi kedua untuk melengkapi Surat laporan anak ku,” keluh ibu korban kepada Juper.

Keesokan harinya, ibu korban dihubungi Juper Maulana menyarankan untuk membawa saksi kedua ke Polsek dan setelah berapa hari kemudian saksi kedua atas nama Satria dihadirkan dan telah dimintai keterangan oleh Juper tersebut selanjutnya ibu korban sebagai saksi ketiga juga dimintai keterangan.

“Anak ku Marco selaku korban sudah tiga kali dimintai keterangan begitu juga dengan saksi pertama Juliana Purba, saksi kedua Satria dan saksi ketiga aku (Ibu Korban). Akan tetapi kedua pelaku itu tak ditangkap juga,” sebutnya.

Mengetahui kedua pelaku terlihat berkeliaran di seputaran rumah tinggalnya, merasa ingin mengetahui perkembangan surat laporan anaknya yang sudah memakan waktu lama, lalu ibu korban menanyakan ke pada Juper.

“Bang kok gak ditangkap-tangkap kedua pelaku penganiayaan anak ku itu, apa karena biaya visum,?” tanya ibu korban kepada Juper.

Kemudian Juper menjawab,”Utk visum TDK bayar buk! Hanya saja tinggal menunggu hasilnya saja dan siap itu akan saya gelar,” jawab Juper Maulana via sms ke nomor handphone ibu korban pada tanggal (5 November 2020) malam.

Ironisnya telah berjalan dua bulan, kedua pelaku penganiayaan korban Marco tak juga kunjung ditangkap.

“Kenapa belum juga ditangkap kedua pelaku itu, heran aku. Visum udah, saksi nya sampai tiga udah, lantas kenapa kedua pelaku enggak ditangkap- tangkap juga. Padahal atas perbuatan pelaku, udah habis-habisan saya mengeluarkan biaya untuk kesembuhan anak saya itu, untuk rawat nginap Opname, Scan, Rontgen, kusuk nya, udah habis Rp.9 juta lebih, belum lagi habis waktu saja merawat, pikiran lagi. Untuk itu saya minta kepastian hukum di Polsek Helvetia terlebih kepada pimpinan Polri agar kedua pelaku secepatnya ditangkap dan di proses hukum,” harap ibu korban sembari mengatakan, anaknya menjadi trauma atas kejadian penganiayaan tersebut.

Ketika dimintai tanggapannya guna perimbangan berita terkait sudah sampai mana tindak lanjut laporan korban penganiayaan atas nama Marco tersebut kepada Briptu Maulana Efendi, SH selaku Juru Periksa yang menangani perkara itu, Minggu (29 November 2020)  mengatakan,”Sudah saya buatkan panggilan keduanya utk saksi an.satria.Karena panggilan pertama saksi an.satria tdk mau dtg,” tulisnya via sms kepada awak media.

Sementara ketika awak media memintai tanggapan Kanit Reskrim, Iptu Suyanto Usman Nasution, SH., MH dan Kapolsek Helvetia, Kompol Pardamean Hutahaean, SH., SIK, hingga berita ini diturunkan belum ada jawaban.

(Eff Metromedan)

Loading...
This site is using SEO Baclinks plugin created by Cocktail Family