25819 KALI DIBACA

Bentrok di Nias, Pendemo Mengalami Luka, Ketua GMNI: Dipukul Polisi

Bentrok di Nias, Pendemo Mengalami Luka, Ketua GMNI: Dipukul Polisi

NIAS (Metro Medan) – Beredar video bentrokan antara pendemo dengan pihak kepolisian. Salah seorang pendemo mengalami luka-luka akibat dipukul.

Aksi tersebut terjadi di depan Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, Jalan Kartini II, Desa Saombo, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara (Sumut), Selasa (3 November 2020).

Dalam video yang beredar luas di media sosial (Medsos), tampak pendemo yang mengatasnamakan dirinya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Gunungsitoli terlibat aksi dorong – dorongan dengan pihak kepolisian.

Aparat kepolisian dan Satpol PP Kabupaten Nias tampak siaga mengawal massa yang mendemo pihak RSUD Gunungsitoli karena dinilai tidak profesional dalam penanganan COVID-19.

Kemudian beberapa pendemo berhasil ditangkap oleh polisi dan dimasukkan ke dalam mobil dinas patroli Satlantas Polres Nias.

Informasi dihimpun awak media, pendemo yang mengalami luka tersebut bernama Maria Waruwu. Dia juga merupakan keluarga korban pasien RSUD Gunungsitoli yang di-COVID-kan oleh pihak RS bulan lalu.

Saat ikut menyampaikan aspirasi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, Maria Waruwu disebut diduga kena pukul oknum polisi, menyebabkan alis matanya robek dan mengeluarkan banyak darah.

Ketua GMNI Gunungsitoli, Joko Priyanto ketika dikonfimasi awak media membenarkan anggotanya mengalami luka saat menggelar aksi di depan Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Nias.

Dia mengatakan, anggota GMNI Gunungsitoli yang mengalami luka tersebut karena dipukul oleh aparat kepolisian saat aksi demonstrasi berlangsung. Padahal pendemo telah mematuhi protokol kesehatan.

“Iya benar, ada dua orang anggota GMNI Gunungsitoli yang luka karena dipukul oleh polisi. Kami menyampaikan aspirasi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Nias tentang pelayanan RSUD Gunungsitoli kepada pasien COVID-19,” kata Joko Priyanto melalui telepon selulernya, Rabu (4 November 2020).

Dijelaskan, pihak RSUD Gunungsitoli dicurigai telah meng-COVID-kan seorang pasien yang kenyataannya bukan penderita COVID-19. Bahkan, beberapa pasien yang sakit ringan, juga dijadikan pasien COVID-19.

“Sudah banyak kasus proses pelayanan di RSUD Gunungsitoli yang tidak profesional menangani COVID-19. Pasien yang sakit ringan dijadikan COVID-19,” ujarnya.

Aksi demonstrasi itu pun tidak diterima oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias dan Direktur RSUD Gunungsitoli. Tak lama kemudian, aksi mulai memanas hingga terjadi bentrok dengan aparat kepolisian.

“Kami minta agar Direktur RSUD Gunungsitoli, dr. Julius Dawolo menerima aspirasi kami. Begitu juga Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias. Namun, aspirasi kami itu hanya diterima oleh Sekertaris Dinas Kesehatan, RO Zandroto. Sementara pihak RSUD Gunungsitoli tidak dihadirkan,” tuturnya.

Kepala Kepolisian Resor Nias, AKBP Wawan Iriawan ketika dikonfimasi awak media membenarkan keributan yang terjadi antara pendemo dengan petugas kepolisian yang mengawal aksi.

“Iya benar ada yang luka. Masih dalam lidik ini,” katanya melalui WhatsApp.

AKBP Wawan Iriawan masih belum bisa menjelaskan motif keributan antara pendemo dan petugas kepolisian.

“Mereka aksi demo saja,” pungkas Kapolres Nias.

[Nias/Metromedan.co.id, Red]

Loading...
This site is using SEO Baclinks plugin created by Cocktail Family