FSPMI dan KSPI Adalah Anggota dari Gerakan Buruh Internasional


Teks Foto: Logo FSPMI dan KSPI. (MM)

 

JAKARTA (Metro Medan)

Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) adalah anggota dari industri ALL dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) adalah anggota ITUC. Baik Industri ALL dan ITUC adalah serikat pekerja ditingkat dunia.

” Sebagai anggota industri ALL dan ITUC, FSPMI dan KSPI membayar iuran. Karena itulah, hal yang wajar jika kemudian FSPMI dan KSPI mendapatkan kerjasama bantuan program pendidikan dari organisasi internasional,” ungkap Ketua Departemen Infokom dan Media KSPI, Kahar S. Cahyono, Jumat (05/05/2017) pagi di Jakarta.

Dijelaskannya, hal yang sama, ketika Indonesia menjadi anggota ILO dan Indonesia membayar iuran ke ILO, maka kemudian Indonesia mendapatkan kerjasama bantuan program ILO untuk Indonesia.

” Apakah hal ini bisa dikatakan sebagai agen asing? Tentu saja tidak. Setiap bantuan kerjasama pendidikan FSPMI dan KSPI dengan Internasional maka penggunaan dananya juga diaudit oleh akuntan publik tersumpah di Indonesia dan diaudit lagi di negara yang memberikan bantuan tersebut.

Bantuan dana pendidikan juga selalu diaudit oleh akuntan publik tersumpah. Audit oleh akuntan publik ini sudah berlangsung dari 10 tahun yang lalu.

Jadi Iqbal bukanlah agen asing. Bahkan Said Iqbal adalah Pengurus Pusat (Governing Body) ILO di Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa mewakili Asia Pacific dari Indonesia, yang tentunya akan menjaga nama baik Indonesia,” sebutnya.

Pertanyaannya kemudian, lanjut Kahar selaku Juru bicara Organisasi kaum buruh ini mengatakan, mengapa meme rumah mewah ini bisa muncul?.

” FSPMI dan KSPI menduga, hal ini adalah kerjaan oknum intelijen murahan, pengusaha hitam, oknum pengikut penguasa yang tidak siap dikritik, dan oknum pengikut calon dalam pilkada yang tidak siap atau sudah kalah.

Semua itu dilakukan untuk melemahkan perjuangkan kaum buruh dengan cara menyerang, memfitnah, dan melemahkan figur pimpinan serikat buruh khususnya Said Iqbal sebagai Presiden KSPI yang juga Presiden FSPMI.

Fakta dilapangan membuktikan seluruh anggota tetap tunduk dan loyal kepada pimpinan buruh yang berjuang bersama mereka. Tanpa harus diembel-embeli “serangan rumah mewah”, memperkaya diri dari iuran anggota, agen asing, dan tuduhan serta fitnah lainnya yang terus diulang-ulang. Anehnya, serangan ini selalu menyerang Said Iqbal memimpin perjuangan di momentum-momentum tertentu.

Serangan rumah mewah, penyelewengan penggunaan iuran, tuduhan memperkaya diri sendiri, selalu muncul dalam momentum perjuangan besar kaum buruh. Biasanya fitnah seperti itu terjadi saat momentum mayday, kongres, atau Rakernas KSPI dan FSPMI, mogok nasional, dan aksi-aksi besar lainnya yang mengkritisi kebijakan pemerintah yang pro kepada pengusaha.

Bahwa iuran serikat buruh – katakanlah FSPMI – mencapai milyaran rupiah, itu adalah benar. Bukankah ini suatu keberhasilan? Sesuatu yang layak untuk dibanggakan.

Disaat banyak organisasi justru menengadahkan tangan meminta bantuan dana hibah dari pemerintah. Bergerak jika ada yang memodali sehingga pantas jika disebut sebagai pasukan nasi bungkus, serikat buruh justru mandiri.

” Harusnya semua organisasi meniru kaum buruh dan serikatnya. Bukannya justru berusaha menghancurkan organisasi yang sudah mapan ini,” pungkas Kahar.

(Dari Jakarta, MM Menayangkan)





author

Author: